Kesendirian

Dulu aku takut gelap karena aku merasa tak berdaya dengan hadirnya gelap.
Kini aku berterima kasih pada gelap, dengannya aku bisa menumpahkan semua rasa yang berkecamuk dalam dada.

Dulu aku takut kesendirian karena bagiku sendiri mematikan empati.
Tapi kini aku berterima kasih pada kesendirian, dengannya aku bisa mengerti bahwa jiwaku membutuhkannya, karena tanpanya hidup hanyalah akan menjadi episode tak menarik, habis energi untuk berkoloni.

Dulu aku takut ditinggalkan karena seumur hidup aku hampir tak pernah kehilangan. Hingga waktu, sang pengajar ulung, memberikan momen demi momen untukku merasakan rasanya ditinggalkan, kehilangan.

Kini, aku mengerti, ketakutanku itu adalah refleksi kekuranganku.

Memori saat Bapak sakit

Bismillah..

Banyak orang bilang, jadi anak bungsu itu enak. Enak karena paling dimanja. Enak karena tidak memiliki “beban” dalam hal moril, finansial, dan lainnya. Kebanyakan dari alasan-alasan tersebut memang masuk akal sih. Tapi tidak sepenuhnya benar. Jikapun benar, sebenarnya hal itu justru bisa dijadikan pecutan buat si anak bungsu untuk jauh melesat melebihi kakak-kakaknya.

Faktanya, dari pengalaman pribadi menjadi anak terakhir itu tidaklah melulu seperti yang dibayangkan oleh banyak orang. Menjadi anak bungsu memiliki perannya sendiri yang mungkin bisa jadi malah lebih besar dan berat dari anak-anak lainnya.

Disini saya ingin berbagi pengalaman sendiri bagaimana serunya menjadi anak terakhir itu.

Dimulai dari suatu masa, Allah memberikan ujian kepada kami sekeluarga dengan memberikan sakit kepada Bapak. Sakit yang dialami Bapak bukanlah sakit yang biasa kami hadapi sebelumnya, seperti masuk angin, sinusitis (bapak punya), ataupun asam lambung tinggi. Itu semua sudah biasa terjadi pada Bapak dan kami sekeluarga pun bisa mengatasinya. Namun, kali ini Allah memberikan warna lain dikehidupan kami. Ia memberikan Bapak sakit yang biasa orang dulu bilang angin duduk atau bisa dibilang serangan jantung. Ini merupakan suatu kejutan buat kami, kejutan yang sangat membuat lemas seluruh persendian. Pasalnya, diriwayat keluarga besar kami tidak ada satu orang pun yang memiliki riwayat demikian. Jadi, tak pernahlah terlintas sedikitpun bahwa penyakit itu akan menyerang bapak.

Dini hari itu, kira-kira pukul 03.30, tetiba Ibu membangunkan aku. Bilang bahwa aku harus mengantar Bapak ke rumah sakit karena dada nya nyeri tak tertahankan. Seketika aku bangun, kemudian turun ke bawah dan melihat Bapak sudah sangat kesakitan. Segera aku mengeluarkan motor dan membonceng Bapak menuju rumah sakit terdekat. Sungguh tak terbayangkan jikalau pada saat itu aku sedang tidak ada di rumah. Karena tepat 2 hari yang lalu aku baru saja pulang dari Indramayu setelah hampir 4 hari aku membantu teman-teman yang tertimpa musibah banjir disana. Kebayang kalau saja aku memperpanjang waktu ku di subang-indramayu dan ternyata Bapak jatuh sakit, siapa yang akan mengantar bapak, sementara kondisi pada saat itu hanya ada ibu dan kakakku dengan 2 anak kecilnya. Ibu ku tidak mungkin mengantarkan Bapak, karena ibu sendiri tidak bisa mengendarai motor. Terlebih kakakku yang mengurusi dua anaknya yang salah satunya bayi. Untungnya alhamdulillah Allah masih meringankan ujian ini dengan menghadirkanku di malam itu. (Kondisi keluargaku kebetulan ketiga kakakku sudah berkeluarga semua dan tinggal dirumahnya masing-masing, hanya ada kakak perempuan nomor dua yang tinggal dirumah dengan dua anaknya yang salah satunya masih berumur 4 bulan). Pada kondisi ini, aku bersyukur ternyata menjadi anak bungsu itu justru memiliki tanggung jawab yang besar.  Karena secara tidak langsung, diamanahi untuk menjaga Ibu-bapak di hari tuanya. Ketika kakak-kakak sudah berkeluarga, diiringi dengan bertambahnya usia orang tua, maka disitulah peran penting anak bungsu, setidaknya bagiku begitu.

Sesampainya dirumah sakit, langsung merujuk ke IGD. Disana Bapak langsung ditangani oleh dokter jaga. Dan aku pun mengurus administrasinya. Jujur saja, itulah pertama kali nya aku mengurusi hal yang bersifat darurat. Sebelumnya jangankan hal darurat, untuk mengurus segala proses administrasi ke RS pun belum pernah, jadi aku tidak tau kalau kita sakit mesti datang kebagian mana terlebih dahulu, lalu proses hingga sampai kita diperiksa oleh dokter itu bagaimana aku tidak tahu. Dan pada kondisi itu, aku mesti melakukan semuanya tanpa pengetahuan sebelumnya. Tapi aku bersyukur, pada akhirnya aku pun belajar. Hingga kelak nantinya aku pun sudah siap jikalau sudah berkeluarga dan terjadi apa-apa dengan keluargaku, maka aku bisa dengan sigap mengurusi segala macam administrasi RS. Pada kondisi ini, akupun kembali bersyukur, karena kalau ada kakak ku pada saat itu, sudah pasti semua pekerjaan itu diambil alih olehnya. Allah ingin aku belajar kehidupan dengan caraNya :”)

Selama di IGD hingga dirawat inap satu hari di RS pertama, akulah yang menemani Bapak dan juga Ibu. Karena kakak-kakak baru akan datang dipagi harinya. Sembari menunggu dokter jantungnya datang (karena keluhan bapak diawal dada nyeri, sedangkan dokter jaga di IGD hanya mendiagnosis bahwa itu adalah asam lambung yang naik, tapi setelah diberikan obat-obatan semacam antas*da nyerinya tak kunjung reda) yang baru akan datang di siang hari.

Tiba waktunya dokter jantungnya datang, kemudian bapak di EKG untuk yang kedua kalinya. Pada saat itu, hanya ada aku disana. Karena kakak-kakakku pun harus bekerja karena hari itu hari kerja. Setelah hasil EKG kedua keluar, maka aku pun dipanggil oleh dokter. Dan disitulah dokter menyatakan bahwa bapak positif serangan jantung. DEG !. Rasanya bergemuruh, tapi entah mengapa aku tidak menangis. Aku langsung menghubungi kakak-kakakku dan memberitahukan hal ini. Kebetulan dokternya tahu bahwa salah satu kakak ku adalah dokter, setelah mereka berdua bicara dalam telpon, maka diputuskan bapak dirujuk ke RS Fatmawati. Dan salah satu titik beratnya adalah menyampaikan pada ibu fakta ini dengan syarat bapak tidak boleh tahu. Berat bagiku pada saat itu. Aku belajar bagaimana menyampaikan tanpa harus membuat ibu terpuruk. Itu artinya aku harus menekan perasaan sedihku sendiri dan memperlihatkan sekaligus meyakinkan ibu bahwa semua akan baik-baik saja.

 

(wah tulisan ini mengendap di draft bertahun lamanya! gak nyangka dulu aku bisa nulis sepanjang ini. kangen nulis lagi. Baiknya dipost biar menjadi kenangan ya)

Halo WordPress (bersihin dempulan debu….)

halo wordpress !

udah lama banget aku ga nulis di wordpress. Ya ga nulis di mana-mana juga sih.hehe

terakhir nulis tahun 2017 !wow bangeeeet. udah lama banget ya,dan sekarang kehidupan aku udah berbeda jauh banget.hehehe

di tulisan kali ini, aku mau cerita tentang update kehidupanku.

Sekarang i’m officially Mrs.Ananto. It means udah ga jomblo anymore.wkwkwk…Berakhir juga masa-masa panjang penuh dengan kegalauan wkwkwk..

dan….usia pernikahanku kini sudah 11 bulan lebih 8 hari lho. ya sebentar lagi kita mau 1st anniversary.hihi… Di fase kehidupanku kali ini, bisa dibilang banyak banget kemudahan-kemudahan yang Allah kasih. Diberi pasangan hidup yang mau mengerti, bisa berkompromi, dan jauh dari suka menyakiti merupakan anugerah yang tak terkira yang membuatku merasa utuh.

banyak orang bilang, kehidupan pernikahan merupakan “the real kehidupan”. Ketika seseorang memasuki fase hidup ini, there’s no turning back. Semua….ya litterally semua harus siap dengan segala kemungkinan terburuk maupun terindah sekalipun yang mungkin terjadi.

belakangan, banyak berita beredar di sosial media yang mengungkit dan mengulas berbagai macam problema kehidupan rumah tangga. dan sedihnya, kebanyakan beritanya negatif. aku yang baru memasuki babak kehidupan rumah tangga ini, cukup merinding dibuatnya. betapa tidak aku bahkan mendapat kabar bahwa ada orang yang aku tau, sebaya denganku,bercerai di usia pernikahan yang belum 1 tahun. sangat mengerikan buatku.meskipun aku yakin mereka juga tidak menginginkan hal itu terjadi dalam kehidupan mereka. ya siapa juga yang ingin menjadi janda/duda.

aku cuma ingin meninggalkan jejak disini. Jikalau suatu saat aku mengalami masalah yang mungkin terasa berat untuk dihadapi. Percayalah, bahwa aku pernah se-bersyukur itu mendapatkan mas. Dan akan terus begitu.selamanya insyaAllah.

 

Ditulis karena pengen ngeluarin isi kepala tapi mas kecapekan, pulang kerja langsung bobo hehe. dan selain itu juga karena aku blm bs bobo 😦
Eh,, ga langsung bobo si..kita sempet makan masakanku berdua, makan crepes, dan ngobrol masalah kerjaan mas di kantor hari ini. Wah banya’ yaaaaa..wkwkwk

10 November

“Karunia Allah lebih teramat besar ketimbang musibah ini..”

Setiap orang di dunia ini, pasti lah mengalami up and down kehidupan. Kadarnya tentu berbeda tiap orang tergantung keimanannya. Rasanya pun berbeda jua. Tergantung cara penyikapannya.
Sesuatu mungkin dikatakan musibah bagi sebagian orang tapi bisa dikatakan anugerah tergantung iya caranya mengarah.
Sesuatu bisa jadi sangat menyakitkan tapi bisa jadi sangat membahagiakan tergantung caranya meyakinkan jiwanya.
Lalu, apa benar disetiap part kehidupan bisa kita kendalikan tanpa ada rasa humanis sedikitpun?
Menurutku hampir mustahil. Semua pasti merasa. Hanya saja dirinya ingin mengarahkan rasanya pada apa. Apakah larut menjamah tiap inci rasa atau justru berdamai untuk kemudian mengarahkan rasa bahwa ada yang lebih penting ketimbang memanja rasa. Itu adalah mengembalikan rasa kepada pemiliknya. Bahwa rasa pun hanya sekedar titipan untuk menampar terus menampar raga yang kering jauh dari segala ketetapan.

Hari ini, 10 November 2017. Diah bersyukur sekaligus tersungkur hina atas segala ketetapanMu.

A way to healing my self

Biasanya kalau sedang dalam kondisi hati yang tidak tenang, saya melipir ke kamar ibu. Tidur disitu walaupun sering ditolak-tolak karena udah besar masa tidur sama orang tua, katanya.
Sebenernya, ada maksud tertentu sengaja tidur di kamar ibu. Mencari energi positif biar tenang.
Entah dapati keyakinan darimana. Semacam yakin aja kalau lagi bad feeling cepat-cepat cari dan mendekat ke orang yang disayang. Idealnya sih ceritain deh apa yang dirasa. Tapi buat orang kaya gue, yang introvert kalo sama keluarga cukup cerita dalam hati aja. Itu udah cukup. Sampai tertidur kalau masalahnya lagi berat banget sampai nangis diamdiam.hehehe

Biasanya, yang paling sering diucapin dalam hati, ungkapan rasa sayang banget sama ibu, ungkapan maaf yang mendalam sama ibu, dan janjijanji manis lainnya yang entah sudah dilakuin atau belum. Begitu terus sampai tertidur.

Kalau sudah gitu, biasanya besok paginya udah ringaaaan banget hatinya. 
Oh ya inget, cara kayak gini dapet dari temen. Dia yang secara gak langsung katanya bisa nyalurin energi positifnya ke ibunya, kalo dia pikir ibunya lagi ada masalah. Kebalikan dari gue. Haha
Ini salah satu cara menghealing ala Diah sih. Dan gue rasa tiap orang pasti punya caranya masingmasing. Dan kalaupun merasa gak punya, cepet temukan! Karena hidup ini berat kalo mesti ngandelin inner strong terusterusan. Setidaknya menurut gue sih. 

Serah

Dengan apa aku bicara

Sedang kata tak lagi bernyawa
Dengan apa aku bicara

Aksara saja serah dengan fatamorgana
Padahal bara sekam itu nyatanya abadi

Setidaknya hingga detak dan detik ini
Pada semua yang tak tersampaikan, mungkin barangkali bukan pembawa padanya salah, tapi mungkin memang tak semua hal indah sekaligus sakit bila tersampaikan
Nyatanya akal waras manusia tak sampai pada pemahaman itu 

Tak terima olehnya kebodohan luar biasa yang tak termaafkan oleh bijak paling agung sekalipun
Meronta di dalam naluri ingin dikasihi

Iri melihat yang lain saling berbagi

Lantas mengaca pada diri

Atas semua hal yang sudah dilakoni,

Atas aliran mata air yang jatuh membasahi pipi,

Atas semua pemakluman dan maafmaaf palsu yang menipu hati
Sudah selebar apa luka itu menganga? 
Terganjal keras oleh apa yang kau sebut dengan asa dan semoga
Menjadi ilusi permanen yang sejuknya tak bisa dihadirkan oleh usaha apapun juga

*mengendap lama dalam notes, this post has been written since 17 sept 2017*

Kasihan

Kasihan jiwaku

Seringkali ia terenyuh atas laku tuannya

Tak jarang menggelengkan kepala atas kata tuannya

Kasihan jiwaku

Tangisan selalu saja keluar dari mata tuannya

Seakan airmata itu bukti pertahanan terakhirnya. Bak tentara pamungkas alarm kelemahan atau lebih tepatnya kelemahan yang tak diperjuangkan tuannya.

Kasihan jiwaku

Sudah terlalu sering ia disejuki keinginan semu yang tak pernah berlangsung lama bahkan tak sampai satu purnama

Kasihan jiwaku

Ia sering meronta, berteriak, marah ingin segera mengecup manisnya hawa yang tuan sejatinya ciptakan untuknya

My-random-melow-night

Situasi sekarang semakin membuat sisi-sisi ke-wanitaan gue memudar. Gue, yang dulunya orang baper-melankolis-romantis-sensitif, pudar tergerus jaman hahaha
Gue menyadari perubahan ini sih. Tapi gue gatau pasti penyebabnya apa. Bisa karena makin tua (hukz), banyak melakukan aktifitas yang gak pake perasaan (ini kayaknya sengaja deh), atau hal lain. Intinya gue merasa udah gak kayak dulu lagi (mentality-nya).
Tapi, malem ini entah mengapa gue pengen melepaskan aja perasaan sendu itu. Sebenernya ada pemicunya sih. Melihat postingan orang yang menautkan link lagu Payung Teduh-Akad, gue jadi agak sendu gini. Sebelumnya gue udah pernah dengerin lagunya tapi gak sampe abis karena gue ga suka iramanya. Tapi tadi gue sengaja dengerin lagunya sampai habis sengaja gue pengen tau isi liriknya. Dan…. ternyata membawa gue pada ingatan-ingatan terlarang haha. Ditambah gue scrolling “pp” wa beberapa orang yang gue sayang yang udah pada nikah (kakak2 gue, temen-temen deket gue) dan dengan sendirinya dua sudut bibir gue nyungging ke atas which is i’m totally happy for them.
Gue, lantas gak langsung pengen banget punya pasangan gitu aja kok meski rasa itu ada cuma mungkin kadarnya 20% dari yang tadinya cuma 10% hahahahaha (gue gatau harus senang atau sedih, padahal emak tiap hari nyiramin nasihat buat cepet nikah tapi semakin kesini makin………… maafin Diah ya Allah :”(  )
Maka malam ini, biarkan memori indah itu menari dengan lenggangnya, dengan bahagianya. Karena esok mungkin tak lagi rasa 🙂

what is it?

Ada sesuatu di dalam diri gw yang sampai detik ini, gue gak tau apakah itu positif atau negatif.
Setiap kali gue merasa atau mengalami hal yang membuat gue sedih banget, gue bisa dengan mudahnya meng-healing itu. Padahal air mata udah tinggal nunggu jatoh gitu. Ibarat kata gue kedip juga netes tuh aer. Tapi semacam ada sesuatu yang membuat otak gue langsung berbalik arah seketika itu juga,nyuruh perasaan gue untuk biasa lagi.

Padahal gue pengen banget sedih gitu. Kali aja gue kurus karna sedih tak berkesudahan hahahaha
Gue emang baper banget anaknya. Dan ini gak bisa atau mungkin belom nemu cara untuk nge-reduce- nya. Nah tapiiii…. gue juga bisa banget untuk lupain kejadian menyakitkan ituh sedetik setelahnya.
Gue mikir, keknya gue jadi terlatih untuk cepet menyembuhkan luka (apa banget bahasa gue nii). Tapi sebenernya gue jadi takut. Takut kepekaan ilang perlahan. Gue takut, kalo hati gue gampang sembuhnya. Gue takut, gue keilangan “rasa”. 
Tapi di sisi lain gue sedikit terbantu dengan hal itu. Gue, orang yang sangat moody ini sangat membutuhkan hal itu. Coba bayangin kalo mood gue tetiba ancur gegara suatu hal, gambarannya itu semacam badan gue ikutan “remuk redam” meeen….. hampir semua penyakit yang pernah gue derita disebabkan oleh stress yang paling dominan. What the banget kan!

Karena emang gue kalo lagi feeling unwell (apapula itu), badan langsung cepet banget responnya. Gereges (lokal bet lu punya bahasa di) langsung menjalar ke seluruh badan. Langsung panas, mual, kek mo pingsan tu. Lemah nian kan :'(:'(:'(:'(

Huks…

Ya gitu…

Yah..maap deh