10 November

“Karunia Allah lebih teramat besar ketimbang musibah ini..”

Setiap orang di dunia ini, pasti lah mengalami up and down kehidupan. Kadarnya tentu berbeda tiap orang tergantung keimanannya. Rasanya pun berbeda jua. Tergantung cara penyikapannya.
Sesuatu mungkin dikatakan musibah bagi sebagian orang tapi bisa dikatakan anugerah tergantung iya caranya mengarah.
Sesuatu bisa jadi sangat menyakitkan tapi bisa jadi sangat membahagiakan tergantung caranya meyakinkan jiwanya.
Lalu, apa benar disetiap part kehidupan bisa kita kendalikan tanpa ada rasa humanis sedikitpun?
Menurutku hampir mustahil. Semua pasti merasa. Hanya saja dirinya ingin mengarahkan rasanya pada apa. Apakah larut menjamah tiap inci rasa atau justru berdamai untuk kemudian mengarahkan rasa bahwa ada yang lebih penting ketimbang memanja rasa. Itu adalah mengembalikan rasa kepada pemiliknya. Bahwa rasa pun hanya sekedar titipan untuk menampar terus menampar raga yang kering jauh dari segala ketetapan.

Hari ini, 10 November 2017. Diah bersyukur sekaligus tersungkur hina atas segala ketetapanMu.

Advertisements

A way to healing my self

Biasanya kalau sedang dalam kondisi hati yang tidak tenang, saya melipir ke kamar ibu. Tidur disitu walaupun sering ditolak-tolak karena udah besar masa tidur sama orang tua, katanya.
Sebenernya, ada maksud tertentu sengaja tidur di kamar ibu. Mencari energi positif biar tenang.
Entah dapati keyakinan darimana. Semacam yakin aja kalau lagi bad feeling cepat-cepat cari dan mendekat ke orang yang disayang. Idealnya sih ceritain deh apa yang dirasa. Tapi buat orang kaya gue, yang introvert kalo sama keluarga cukup cerita dalam hati aja. Itu udah cukup. Sampai tertidur kalau masalahnya lagi berat banget sampai nangis diamdiam.hehehe

Biasanya, yang paling sering diucapin dalam hati, ungkapan rasa sayang banget sama ibu, ungkapan maaf yang mendalam sama ibu, dan janjijanji manis lainnya yang entah sudah dilakuin atau belum. Begitu terus sampai tertidur.

Kalau sudah gitu, biasanya besok paginya udah ringaaaan banget hatinya. 
Oh ya inget, cara kayak gini dapet dari temen. Dia yang secara gak langsung katanya bisa nyalurin energi positifnya ke ibunya, kalo dia pikir ibunya lagi ada masalah. Kebalikan dari gue. Haha
Ini salah satu cara menghealing ala Diah sih. Dan gue rasa tiap orang pasti punya caranya masingmasing. Dan kalaupun merasa gak punya, cepet temukan! Karena hidup ini berat kalo mesti ngandelin inner strong terusterusan. Setidaknya menurut gue sih. 

Serah

Dengan apa aku bicara

Sedang kata tak lagi bernyawa
Dengan apa aku bicara

Aksara saja serah dengan fatamorgana
Padahal bara sekam itu nyatanya abadi

Setidaknya hingga detak dan detik ini
Pada semua yang tak tersampaikan, mungkin barangkali bukan pembawa padanya salah, tapi mungkin memang tak semua hal indah sekaligus sakit bila tersampaikan
Nyatanya akal waras manusia tak sampai pada pemahaman itu 

Tak terima olehnya kebodohan luar biasa yang tak termaafkan oleh bijak paling agung sekalipun
Meronta di dalam naluri ingin dikasihi

Iri melihat yang lain saling berbagi

Lantas mengaca pada diri

Atas semua hal yang sudah dilakoni,

Atas aliran mata air yang jatuh membasahi pipi,

Atas semua pemakluman dan maafmaaf palsu yang menipu hati
Sudah selebar apa luka itu menganga? 
Terganjal keras oleh apa yang kau sebut dengan asa dan semoga
Menjadi ilusi permanen yang sejuknya tak bisa dihadirkan oleh usaha apapun juga

*mengendap lama dalam notes, this post has been written since 17 sept 2017*

Kasihan

Kasihan jiwaku

Seringkali ia terenyuh atas laku tuannya

Tak jarang menggelengkan kepala atas kata tuannya

Kasihan jiwaku

Tangisan selalu saja keluar dari mata tuannya

Seakan airmata itu bukti pertahanan terakhirnya. Bak tentara pamungkas alarm kelemahan atau lebih tepatnya kelemahan yang tak diperjuangkan tuannya.

Kasihan jiwaku

Sudah terlalu sering ia disejuki keinginan semu yang tak pernah berlangsung lama bahkan tak sampai satu purnama

Kasihan jiwaku

Ia sering meronta, berteriak, marah ingin segera mengecup manisnya hawa yang tuan sejatinya ciptakan untuknya

My-random-melow-night

Situasi sekarang semakin membuat sisi-sisi ke-wanitaan gue memudar. Gue, yang dulunya orang baper-melankolis-romantis-sensitif, pudar tergerus jaman hahaha
Gue menyadari perubahan ini sih. Tapi gue gatau pasti penyebabnya apa. Bisa karena makin tua (hukz), banyak melakukan aktifitas yang gak pake perasaan (ini kayaknya sengaja deh), atau hal lain. Intinya gue merasa udah gak kayak dulu lagi (mentality-nya).
Tapi, malem ini entah mengapa gue pengen melepaskan aja perasaan sendu itu. Sebenernya ada pemicunya sih. Melihat postingan orang yang menautkan link lagu Payung Teduh-Akad, gue jadi agak sendu gini. Sebelumnya gue udah pernah dengerin lagunya tapi gak sampe abis karena gue ga suka iramanya. Tapi tadi gue sengaja dengerin lagunya sampai habis sengaja gue pengen tau isi liriknya. Dan…. ternyata membawa gue pada ingatan-ingatan terlarang haha. Ditambah gue scrolling “pp” wa beberapa orang yang gue sayang yang udah pada nikah (kakak2 gue, temen-temen deket gue) dan dengan sendirinya dua sudut bibir gue nyungging ke atas which is i’m totally happy for them.
Gue, lantas gak langsung pengen banget punya pasangan gitu aja kok meski rasa itu ada cuma mungkin kadarnya 20% dari yang tadinya cuma 10% hahahahaha (gue gatau harus senang atau sedih, padahal emak tiap hari nyiramin nasihat buat cepet nikah tapi semakin kesini makin………… maafin Diah ya Allah :”(  )
Maka malam ini, biarkan memori indah itu menari dengan lenggangnya, dengan bahagianya. Karena esok mungkin tak lagi rasa 🙂

what is it?

Ada sesuatu di dalam diri gw yang sampai detik ini, gue gak tau apakah itu positif atau negatif.
Setiap kali gue merasa atau mengalami hal yang membuat gue sedih banget, gue bisa dengan mudahnya meng-healing itu. Padahal air mata udah tinggal nunggu jatoh gitu. Ibarat kata gue kedip juga netes tuh aer. Tapi semacam ada sesuatu yang membuat otak gue langsung berbalik arah seketika itu juga,nyuruh perasaan gue untuk biasa lagi.

Padahal gue pengen banget sedih gitu. Kali aja gue kurus karna sedih tak berkesudahan hahahaha
Gue emang baper banget anaknya. Dan ini gak bisa atau mungkin belom nemu cara untuk nge-reduce- nya. Nah tapiiii…. gue juga bisa banget untuk lupain kejadian menyakitkan ituh sedetik setelahnya.
Gue mikir, keknya gue jadi terlatih untuk cepet menyembuhkan luka (apa banget bahasa gue nii). Tapi sebenernya gue jadi takut. Takut kepekaan ilang perlahan. Gue takut, kalo hati gue gampang sembuhnya. Gue takut, gue keilangan “rasa”. 
Tapi di sisi lain gue sedikit terbantu dengan hal itu. Gue, orang yang sangat moody ini sangat membutuhkan hal itu. Coba bayangin kalo mood gue tetiba ancur gegara suatu hal, gambarannya itu semacam badan gue ikutan “remuk redam” meeen….. hampir semua penyakit yang pernah gue derita disebabkan oleh stress yang paling dominan. What the banget kan!

Karena emang gue kalo lagi feeling unwell (apapula itu), badan langsung cepet banget responnya. Gereges (lokal bet lu punya bahasa di) langsung menjalar ke seluruh badan. Langsung panas, mual, kek mo pingsan tu. Lemah nian kan :'(:'(:'(:'(

Huks…

Ya gitu…

Yah..maap deh

Pasal Hidup Diah

Saya ingin menuliskan beberapa pemahaman yang bisa dijadikan “pegangan” untuk menjalani kehidupan ini… Beberapa diantaranya saya dengar dari orang lain, beberapa hasil dari perenungan (yaelah…). Belum sepenuhnya (atau belum sama sekali malah) saya aplikasikan dalam kehidupan diri sendiri, but maybe by the time aku nulis ini, bisa jadi salah satu reminder buat diri ini. Yuk mulai 🙂

Satu. Seberapapun tidak sukanya kita sama orang lain, jangan pernah membicarakannya kepada orang lain tentang ketidaksukaan kita tersebut. Mengapa ? karena hal itu akan memengaruhi psikologis orang yang kita beri tahu. Sadar atau tidak, kita turut berperan serta dalam membuat sebuah image orang yang kamu tidak suka itu. Ini sebenernya terinspirasi dari temen sewaktu SMA. Seorang cowok yang duduknya di belakang saya persis. Namanya Bima. Orangnya tinggi banget, kurus. Sekarang udah jadi dokter. Thank You Bim !

Dua. Percayalah bahwa people change ! Ya, orang pasti akan berubah dengan seiring waktu. So, sebisa mungkin jangan men-judge permanen orang seperti apapun (buruk/baiknya). Biasa aja gitu, sadari bahwa manusia punya kekurangan dan kelebihan. Karena bisa jadi, jika kita saat ini menilai orang seperti A misalnya (sifatnya negatif), di kemudan hari kita temukan diri kita seperti orang yang kita judge dahulu, dan orang yang kita judge menjadi jauh lebih baik dari kita. Malu sendiri kan?. Kalo men-judge baik juga jangan tutup mata juga, manajamen ekspektasi harus baik (bahasa lu di). Gak mau kan kecewa dikemudian hari. People change! dan yang paling penting diinget, Allahlah yang punya semua hati manusia,gampang banget buatNya untuk membolak-balikkannya.

Tiga. Enggak semua orang itu ngerti atau punya common sense. Jadi jangan marah kalau ada orang yang bertindak tidak sewajarnya di public area. Tapi percayalah, walaupun nggak enak banget punya common sense yang nggak dipahami orang lain, common sense sendiri yang nantinya membawa kita menjadi orang yang lebih baik. susah ya? iya emang……….. yuk perbanyak sabar!

So Far segini dulu yang bisa ditulis…. ini udah lama banget kesimpen di dalam draft. point terakhir itu baru banget kepikiran saat nulis ini.

ya, begitu….

 

Tentang Terserah

Paling males sebenernya dengan satu kata ini. Seperti mengisyaratkan kalau sang pembicara enggan memutuskan, memikirkan, memilih sesuatu hal yang akan dilakukan secara bersama-sama.

Terlebih kata “terserah” mengandung makna rendahnya tingkat kepedulian orang tersebut atas sesuatu tersebut.

Saya, termasuk hidup di lingkungan yang memiliki banyak orang yang mudah sekali mengucapkan hal tersebut. Padahal menurut saya, kata tersebut membuat paling tidak 

  1. Membentuk karakter orang yang di-terserah-i menjadi little bit bossy. Ya, efek jangka panjangnya akan seperti itu. Karena ia terbiasa menentukan, memutuskan, dan mengarahkan bahkan untuk hal paling sederhana sekali pun.
  2. Orang-orang yang di-terserah-i juga menjadi terbiasa bersudut pandang ala dirinya sendiri. Akan sulit baginya menerima sudut pandang orang lain.
  3. Biasanya juga ia akan cenderung mengambil keputusan lewat pikirannya sendiri. Musyawarah hanya sebagai formalitas belaka. Padahal mah,emang udah tau aja jawaban/keputusannya mau apa.
  4. cenderung tidak sabaran karena terbiasa melakukan ataupun berpikir sendiri.
  5. efek yang paling mengerikan sebenarnya menurut saya adalah jika orang yang di-terserah-i nerima-nerima aja kalau dia yang mengambil alih, secara nggak sadar mereka pun membiarkan orang-orang yang hobbynya bilang terserah untuk malas berpikir, malas memilih, dan terparah adalah malas menentukan sikap. Hidupnya ngambang. Gak jelas gitu ia ada di posisi mana.

Kira-kira itu sih yang saya rasa. Ini pure pemikiran saya sendiri aja yang suka mikirin hal-hal beginian yang mungkin gak pernah terlintas di benak orang lain. Tapi… saya mah suka bingung kenapa saya suka mikirin kata-kata. Seperti misalnya, kenapa mobil itu dinamai mobil, kenapa perasaan itu jarang bisa terkontrol #lhojadicurhat
Ya, begitu…

Tentang Hal yang tidak saya suka (1)

Saya perlu belajar lebih jauh lagi dalam memahami diri sendiri. Saya rasa hal ini penting sekali sebagai salah satu langkah memanusiakan diri sendiri.

Ternyata saya baru memahami dan mencoba mengambil kesimpulan bahwa saya tidak suka di telpon terlebih dari nomor yang tidak saya kenal. Hahaha. Apalagi jika tidak ada sesuatu hal yang penting untuk dibicarakan. Semacam, kalo bisa dijelasin by message kenapa harus telpon, begitu kira-kira.

Saya sering sekali tidak mengangkat telpon. Baik dari keluarga, teman, ataupun rekanan lainnya. Biasanya saya menunggu sampai dering telpon berhenti kemudian saya langsung meng-sms orang tersebut.

Ada beberapa peristiwa semisal ternyata itu telpon dari HRD sebuah perusahaan. Bayangkan ia menelpon saya hingga 3 kali dalam waktu dua hari dan tak ada satu pun yang saya angkat! Ckckck maafkan ke-freak-an saya inih huhuhu. Sebenernya qodarullah ketika HRD itu menelpon saya, handphone sedang tidak berada di jangkauan. Kebetulan saya memang bukan maniak handphone garis keras. Pada saat itu, saya menyayangkan sih kenapa tidak sms atau email gitu ya biar tau kalau itu adalah panggilan kerja. Wkwkwk, egois gak sih gueeee >.<
Dan berakhir saya mengangkat telponnya yang ke empat dan tetap saja tidak datang wawancara karena sakit. Meeeeen, dari awal gue emang udah feeling sih kalo ini keknya bukan rejeki gua.gitu

Ada lagi, teman dekat nun jauh di sana meminta untuk ditelpon, meminta untuk membuat akun skype, dan meminta video call. Dan tak satu pun yang saya lakukan. Duh, maafkan diah ya. Mungkin dia masih bete sama saya karena hal itu.

Huft…apa ya semacam gak ada will samsek gitu. Dan masih berpikir bahwa semua bisa dilakukan via texting.

Tapi mungkin sifat ini akan berubah kalau yang nelpon itu kamu. Iyaa kamuuu.. yuhuu~~~